Ksnnews.net|Aceh Barat – Akademi Qur’an (AKQ) meluncurkan sebuah inisiatif baru bertajuk “15 Menit Membaca” dalam kegiatan pengkajian rutin di tugu Kupiah Teuku Umar, Bate Puteh. Gerakan ini bukan sekadar ajakan membaca, tetapi sebuah upaya membangun budaya literasi yang hidup, reflektif, dan menyentuh kesadaran batin jama’ah.(03/05/2026)
Berbeda dengan kebiasaan membaca Al-Qur’an yang sudah menjadi bagian dari rutinitas umat Islam, gerakan ini menekankan membaca dengan kesadaran (conscious reading) yakni membaca teks keislaman, khususnya Ma’rifat Asmaul Husna, dengan tujuan memahami, merasakan, dan mengaitkannya langsung dengan realitas kehidupan.
Ustadz Syamsul Kamal sebagai penggagas kegiatan menegaskan bahwa perubahan ini berangkat dari keprihatinan terhadap pola majelis yang selama ini cenderung satu arah.
“Selama ini kita banyak mendengar. Itu baik, tetapi belum cukup. Al-Qur’an tidak memulai dengan ‘dengarkan’, melainkan ‘Iqra’ bacalah. Membaca di sini bukan sekadar melafalkan tetapi mengaktifkan hati, akal, dan kesadaran,” jelasnya.
Dalam implementasinya setiap jama’ah diberi waktu sekitar 15 menit untuk membaca secara mandiri bukan sekadar menyerap informasi, tetapi menemukan makna yang menyentuh dirinya sendiri.
Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan sesi berbagi (sharing) di mana jama’ah didorong untuk aktif mengungkapkan apa yang dirasakan bukan hanya apa yang dipahami.
Pendekatan ini menandai pergeseran penting.dari majelis mendengar menjadi majelis yang menghidupkan partisipasi dan kesadaran.
Lebih jauh gerakan ini ingin menanamkan bahwa membaca bukanlah aktivitas pasif, tetapi proses merenung,mengaitkan dengan pengalaman hidup dan membuka ruang kehadiran Allah dalam hati.

Melalui metode ini AKQ berharap jama’ah tidak hanya “tahu” tentang Allah tetapi mulai merasakan kehadiran-Nya dalam kehidupan sehari-hari.
Gerakan “15 Menit Membaca” juga menjadi bagian dari upaya lebih luas untuk membangun budaya literasi spiritual di tengah masyarakat, sebuah budaya yang tidak hanya menambah wawasan, tetapi membentuk cara berpikir, merasakan, dan menjalani hidup.
Antusiasme jama’ah terlihat dari keterlibatan aktif dalam sesi berbagi yang sebelumnya jarang terjadi dalam pola pengajian konvensional. Banyak peserta merasakan suasana yang lebih hidup, lebih dekat, dan lebih personal.
AKQ optimis langkah sederhana ini dapat menjadi awal dari perubahan besar,dari sekadar menerima ilmu menjadi menghidupkan ilmu dalam hati dan kehidupan.













